Laman

Rabu, 25 Juli 2012

Akar Sejarah Perbedaan NU - Muhammadiyah

Tulisan di bawah ini sangat menarik mengupas Latar belakang beda pendapat antara Nahdlatul Ulama (NU)  dan Muhammadiyah (MD) dalam masalah LEBARAN dan RAMADHAN.


LEBARAN DUA VERSI, MUHAMMADIYAH "BIANG KEKACAUAN" ?

Oleh : ahmad musta'in syafi'ie
Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy'ari itu sekawan, sama-sama menunut ilmu agama di Arab Saudi. Sama-sama ahli Hadis dan sama-sama ahli fikih. Saat hendak pulang ke tanah air, keduanya membuat kesepakatan menyebarkan islam menurut skil dan lingkungan masing-masing.


Kiai Ahmad bergerak di bidang dakwah dan pendidikan perkotaan, karena berasal dari kuto Ngayogyokarto. Sementara kiai Hasyim memilih pendidikan pesantren karena wong ndeso, Jombang. Keduanya adalah orang hebat, ikhlas dan mulia. Allahumm ighfir lahum.

Keduanya memperjuangkan kemerdekaan negeri ini dengan cara melandasi anak bangsa dengan pendidikan dan agama. Kiai Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah dan kiai Hasyim Asy'ari mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Saat beliau berdua masih hidup, tata ibadah yang diamalkan di masyarakat umumnya sama meski ada perbedaan yang sama sekali tidak mengganggu.

Contoh kesamaan praktek ibadah kala itu antara lain : Pertama, shalat tarawih, sama-sama dua puluh rakaat. Kiai Ahmad Dahlan sendiri disebut-sebut sebagai imam shalat tarawih dua puluh rakaat di masjid Syuhada Yogya. Kedua, talqin mayit di kuburan, bahkan ziarah kubur dan kirim doa dalam Yasinan dan tahlilan (?). Ketiga, baca doa qunut Shubuh. Keempat, sama-sama gemar membaca shalawat (diba'an).

Kelima, dua kali khutbah dalam shalat Id, Idul Ftri dan Idul Adha. Keenam, tiga kali takbir, "Allah Akbar", dalam takbiran. Ketujuh, kalimat Iqamah (qad qamat al-shalat) diulang dua kali, dan yang paling monumental adalah itsbat hilal, sama-sama pakai rukyah. Yang terakhir inilah yang menarik direnungkan, bukan dihakimi mana yang benar dan mana yang salah.

Semua amaliah tersebut di atas berjalan puluhan tahun dengan damai dan nikmat. Semuanya tertulis dalam kitaf Fikih Muhammadiayah yang terdiri dari tiga jilid, yang diterbitkan oleh : Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka Jogjakarta, tahun 1343an H. Namun ketika Muhammadiyah membentuk Majlis Tarjih, di sinilah mulai ada penataan praktik ibadah yang rupanya " harus beda " dengan apa yang sudah mapan dan digariskan oleh pendahulunya. Otomatis berbeda pula dengan pola ibadahnya kaum Nahdhiyyin. Perkara dalail, nanti difikir bareng dan dicari-carikan.

Disinyalir, tampil beda itu lebih dipengaruhi politik ketimbang karena keshahihan hujjah atau afdhaliah ibadah. Untuk ini, ada sebuah Tesis yang meneliti Hadis-hadis yang dijadikan rujukan Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam menetapkan hukum atau pola ibadah yang dipilih.

Setelah uji takhrij berstandar mutawassith, kesimpulannya adalah : bahwa mayoritas Hadis-Hadis yang pakai hujjah Majlis Tarjih adalah dha'if. Itu belum dinaikkan pakai uji takhrij berstandar mutasyaddid versi Ibn Ma'in. Hal mana, menurut mayoritas al-Muhadditsin, hadis dha'if tidak boleh dijadikan hujjah hukum, tapi ditoleransi sebagai dasar amaliah berfadhilah atau Fadha'il al-a'mal. Tahun 1995an, Penulis masih sempat membaca tesis itu di perpustakaan Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Ygyakarta.

Soal dalil yang dicari-carikan kemudian tentu berefek pada perubahan praktik ibadah di masyarakat, kalau tidak disebut sebagai membingungkan. Contoh, ketika Majlis Tarjih memutuskan jumlah rakaat shalat Tarawih depalan plus tiga witir, bagaimana praktiknya ?.

Awal-awal instruksi itu, pakai komposisi : 4,4,3. Empat rakaat satu salam, empat rakaat satu salam. Ini untuk tarawih. Dan tiga rakaat untuk witir. Model witir tiga sekaligus ini vrsi madzahab Hanafi. Sementara wong NU pakai dua-dua semua dan ditutup satu witir. Ini versi al-Syafi'ie.

Tapi pada tahun 1987, praktik shalat tarawih empat-empat itu diubah menjadi dua-dua. Hal tersebut atas seruan KH Shidiq Abbas Jombang ketika halaqah di masjid al-Falah Surabaya. Beliau tampilkan hadis dari Shahih Muslim yang meriwayatkan begitu. Karena, kualitas hadis Muslim lebih shahih ketimbang Hadis empat-empat, maka semua peserta tunduk. Akibatnya, tahun itu ada selebaran keputusan majlis tarjih yang diedarkan ke semua masjid dan mushallah di lingkungan Muhammadiyah, bahwa praktik shalat tarawih pakai komposisi dua-dua, hingga sekarang, meski sebagian masih ada yang tetap bertahan pada empat-empat. Inilah fakta sejarah.

Kini soal itsbat hilal pakai rukyah. Tolong, lapangkan dada sejenak, jangan emosi dan jangan dibantah kecuali ada bukti kuat. Semua ahli falak, apalagi dari Muhammadiyah pasti mengerti dan masih ingat bahwa Muhammadiyah dulu dalam penetapan hilal selalu pakai rukyah bahkan dengan derajat cukup tinggi. Hal itu berlangsung hingga era orde baru pimpinan pak Harto. Karena orang-orang Muhammdiyah menguasai deprtemen Agama, maka tetap bertahan pada rukyah derajat tinggi, tiga derajat ke atas dan sama sekali menolak hilal dua derajat. Dan inilah yang selalu pakai pemerintah. Sementara ahli falak Nadhliyyin juga sama mengunakan rukyah tapi menerima dua derajat sebagai sudah bisa dirukyah. Dalil mereka sama, pakai Hadis rukyah dan ikmal.

Oleh karena itu, tahun 90an, tiga kali berturut-turut orang NU lebaran duluan karena hilal dua derajat nyata-nyata sudah bisa dirukyah, sementara Pemerintah-Muhammadiyah tidak menerima karena standar yang dipakai adalah hilal tinggi dan harus ikmal atau istikmal. Ada lima titik atau lebih tim rukyah gabungan menyatakan hilal terukyah, tapi tidak diterima oleh departemen agama, meski pengadilan setempat sudah menyumpah dan melaporkan ke Jakarta. Itulah perbedaan standar derajat hilal antara Muhammadiyah dan NU. Masing-masing bertahan pada pendiriannya.

Setelah pak Harto lengser dan Gus Dur menjadi presiden, orang-orang Muhammadiyah berpikir cerdas dan tidak mau dipermalukan di hadapan publiknya sendiri. Artinya, jika masih pakai standar hilal tinggi, sementara mereka tidak lagi menguasai pemeritahan, pastilah akan lebaran belakangan terus. Dan itu berarti lagi-lagi kalah start dan kalah cerdas. Maka segera mengubah mindset dan pola pikir soal itsbat hilal. Mereka tampil radikal dan meninggalkan cara rukyah berderajat tinggi. Tapi tak menerima hilal derajat, karena sama dengan NU.

Lalu membuat metode "wujud al-hilal". Artinya, pokoknya hilal menurut ilmu hisab atau astronomi sudah muncul di atas ufuk, seberapapun derajatnya, nol koma sekalipun, sudah dianggap hilal penuh atau tanggal satu. Maka tak butuh rukyah-rukyahan seperti dulu, apalagi tim rukyah yang diback up pemerintah. Hadis yang dulu dielu-elukan, ayat al-Qur'an berisikan seruan " taat kepada Allah, Rasul dan Ulil amr " dibuang dan arergi didengar. Lalu dicari-carikan dalil baru sesuai dengan selera.

Populerkah metode "wujud al-hilal" dalam tradisi keilmuwan falak ?. Sama sekali tidak, baik ulama dulu maupu sekarang.

Di sini, Muhammdiyah membuat beda lagi dengan NU. Kalau dulu, Muhammadiyah hilal harus berajat tinggi untuk bisa dirukyah, hal mana pasti melahirkan beda keputusan dengan NU, kini membuang derajat-derajatan secara total dan tak perlu rukyah-rukyahan. Menukik lebih tajam, yang penting hilal sudah muncul berapapun derajatnya. Sementara NU tetap pada standar rukyah, meski derajat dua atau kurang sedikit. Tentu saja beda lagi dengan NU. Maka, selamanya tak kan bisa disatukan, karena sengaja harus tampil beda. Dan itu sah-sah saja.

Dilihat dari fakta sejarah, pembaca bisa menilai sendiri sesungguhnya siapa yang sengaja membuat beda, sengaja tidak mau dipersatukan, siapa biang persoalan di kalangan umat ?.

Menyikapi lebaran dua versi, warga Muhammadiyah pasti bisa tenang karena sudah biasa diombang-ambingkan dengan perubahan pemikiran pimpinannya. Persoalannya, apakah sikap, ulah atau komentar mereka bisa menenangkan orang lain ?.

Perkara dalil nash atau logika, ilmu falak klasik atau neutik, rubu' atau teropong moderen sama-sama punya. Justeru, bila dalil-dalil itu dicari-cari belakangan dan dipaksakan, sungguh mudah sekali dipatahkan.

Hebatnya, semua ilmuwan Muhammadiyah yang akademis dan katanya kritis-kritis itu bungkam dan tunduk semua kepada keputusan majlis tarjih. Tidak ada yang mengkritik, padahal kelamahan akademik pasti ada. Minal aidin al-faizin, mohon maaf lahir dan batin.

22 komentar:

  1. gak profesional data gak lengkap statemen asal2an

    BalasHapus
  2. Ini tulisannya terlalu banyak bersifat subyektif. Harus fair dalam menilai 2 golongan, toh juga sama2 muslim...

    BalasHapus
  3. artikel kok kayaknya lebih condong ke NU,..pelajari dlu al qur'an dan al hadis aja sampai hafal dan bisa di mengerti..lalu di amalkan,..karna ini pedoman muslim,,gak usah gontok2an...

    BalasHapus
  4. Jgn menjelek2kn sesama aluran...toh sama2 muslim...Allah,rosul,kitab jg sama.

    BalasHapus
  5. KOK SEMUA Pd sirik sih,,,,toh kan ini blog NU , saya aja yg MUHAMADIYAH gk gt.... klo emng itu bukti ..ea kita sadari aja, cz dulu guru besar kyai saya KH.AHMAD DAHLAN semoga ALLah menempatkannya di tempat yng mulia.. beliau seperguruan dengan kiai nya NU ,beliau almagfurlah KH.HASYIM ASY'ARI ..semoga beliau jg mendapat tempat yang mulia jg di sisiNYA. amin...

    BalasHapus
  6. sama shalat lima waktu sama - sama percaya pada alquran dan Allah, kenapa harus diperdebatkan? jangan subyektif...

    BalasHapus
  7. Sudahlah, , Penilaian dari manusia bisa benar-bisa salah, ,
    Kita ini islam, entah ini blog Nu atau Muhammadiyah, , Jangan membesar2kan sesuatu yang gag jelas. .
    kalau memang menulis statement yang belum pasti bukti2nya, , mendingan gag usah ditulis kan, , Malah akan menghancurkan umat kita sendiri nantinya,

    BalasHapus
  8. monggolah semua kita sikapi dengan arif dan bijaksana,,, toh yg namanya khilafiyah itu sudah ada sejak zaman Sahabat. kalau kita paksanakan untuk sama antar golongan pastilah itu sangat susah bahkan bisa dikatakan tidak mungkin, karena masing2 punya pedoman sendiri2. yang penting jangan saling menghina satu sama lain,jangan mengaku paling bener,,, karena al-Muslim Akhul Muslim. yg tahlil mereka tidak salah, karena dulu wali songo mengajarkan, yg tidak tahlil ya tidak salah, itulah indahnya Islam.
    janganlah perbedaan itu menjadikan permusuhan, tpi perbedaan adalah Rahmat. Ingat...!!! ISLAM RAHMATAN LIL'ALAMIIN.

    BalasHapus
  9. memang fakta gan, kalo muhammadiyah(MD) itu hampir sama ibadahnya dg NU di masa2 awal berdirinya ke2 orgnisasi itu, tapi entah knp MD lambat laun agak berbeda dengan dari yg dulu, dari salat tarawih 8 rkaat, takbir 2 kali, dll. Memang sudah mjd rahasia umum bahwa MD memang ingin berbeda dengan NU. malahan seorang kiyai besar mengaku punya kitab aasli karangan KH. ahmad dahlan yg hisinya kurang lebih mirip dg NU dari segi fiqih maupun lainnya saya kurang tau,,,,,

    BalasHapus
  10. ada yang beda di blog saya
    mampir ya
    http://nu-watchandcare.blogspot.com

    BalasHapus
  11. Pendiri Muhamadiyah dan NU sama-sama pernah belajar pada Kyai NU asal Semarang yaitu: Kyai Sholah Darat. Pada awalnya ibadahnya sama dengan NU tetapi sejak adanya Dewan Tajrih yang disusupi penganut Wahabi akhirnya amalanya beda dengan NU. Kasihan KH. Ahmad Dahlan organisasinya dibajak oleh pengikut Wahabi.

    BalasHapus
  12. وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا


    "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai,.." (Q.S.3:103)

    pelajari fiqh pebedaan...

    BalasHapus
  13. Berpeganglah pada al quran dan as sunnah yang berdasarkan pemahaman salafusshalih

    BalasHapus
  14. membuat tulisan dengan jiwa emosional... sungguh tak arif...sungguh tak bijaksana...

    BalasHapus
  15. jgn terlalu subjective, kita sesama muslim lebih banyak saling ribut mencari kelemahan NU & Muhammadiyah.. tak usah sibuk,, yakini apa yang menurut anda terbaik dan jalani sebaik mungkin segala perintah Allah SWT dan segala Larangannya. Aminnn... Insa Allah

    BalasHapus
  16. Orang yang buat artikel ini IQ nya masih kelas bawahan
    saran saya Anda perdalam ajaran Islam NU dan Muhammdiyah, trus ambil perbandingan berdasarkan yg bisa diterima akal dan berdasarkan AlQuran yg kuat

    Hadist skrang itu bnyak yg sesat,, Intinya Di AlQURAN

    BalasHapus
  17. Penulis gak paham esensi cara menulis blog yang baik sebagai seorang peneliti, jelas tidak berimbang dan bertitik pada pemikiran skeptisisme sempit.
    Sangat stagnan,jumud,dan pro tradisionalis.
    Hehehhe...
    Islam adalah agama bukan tradisi..
    Mengawinkan agama dan tradisi, waduh....
    Hati2 sesat dijalan... :)

    ps: nulis alergi aja arergi.. hehehe.. ketaker nih pengetahuan dan ilmunya si penulis... belajar lagi nak... :)

    BalasHapus
  18. Tidak ada salahnya ada orang kasih masukan, tinggal kita berpikir jernih, silahkan dianalisa data-data yang diberikan, kalau memang salah, ya silahkan dibantah, tentu dengan data yang lebih akurat, tapi kalau memang betul, ya diterima saja sebagai fakta sejarah, bahwa itu memang pernah terjadi seperti itu,tidak usah ribut membantah tapi juga asal bantah saja, ujung-ujungnya saling menjelekkan.

    BalasHapus
  19. Tidak ada salahnya ada orang kasih masukan, tinggal kita berpikir jernih, silahkan dianalisa data-data yang diberikan, kalau memang salah, ya silahkan dibantah, tentu dengan data yang lebih akurat, tapi kalau memang betul, ya diterima saja sebagai fakta sejarah, bahwa itu memang pernah terjadi seperti itu,tidak usah ribut membantah tapi juga asal bantah saja, ujung-ujungnya saling menjelekkan.

    BalasHapus
  20. Tidak ada salahnya ada orang kasih masukan, tinggal kita berpikir jernih, silahkan dianalisa data-data yang diberikan, kalau memang salah, ya silahkan dibantah, tentu dengan data yang lebih akurat, tapi kalau memang betul, ya diterima saja sebagai fakta sejarah, bahwa itu memang pernah terjadi seperti itu,tidak usah ribut membantah tapi juga asal bantah saja, ujung-ujungnya saling menjelekkan.

    BalasHapus
  21. maaf min,

    blog anda sudah banyakn menimbulkan kericuhan, tolong di tertibkan demi keindahan blog dan Beragama

    BalasHapus